Tampilkan postingan dengan label facebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label facebook. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Februari 2015

ME, MY STUDENTS AND THAT DAMN UNCATEGORIZED MUSIC

Catatan ini pada awalnya hanya status Facebook biasa, pertama kalinya saya nyetatus panjang, waktu itu buat selingan saat jenuh bikin SPJ BOS Triwulan IV (gak ada yang nanya 'kalee.. :p ). Tak disangka, yang share tembus angka 237. Subhanallah, habis itu senang deh.. dapat banyak teman. Ternyata musik nggak jelas ini adalah keprihatinan banyak pihak (bukan karena nulisnya bagus loh.. ).

Here it is..

ME, MY STUDENTS AND THAT DAMN UNCATEGORIZED MUSIC

Saya bukan penyuka musik, walaupun nggak anti juga sih.. Belakangan, saya mulai ilfil dengan beberapa lagu yang menurut saya mengandung muatan nggak mendidik. Bukan apa-apa, hanya mengingat posisi saya sebagai guru BK yang wajib concern dengan budi pekerti anak didik *jiaah...  Didaerah tempat saya mengajar, musik beginian jadi mainstream. Didendangkan anak-anak dengan senangnya. Padahal liriknya, na’udzubillah..

Awalnya hanya sering dengar saat belanja di pasar.Qodarulloh.. (kata ustadz.., ehm.. daripada bilang “kebetulan” mendingan“qodarulloh” karena segala sesuatu tidak ada yang kebetulan, mesti sudah dirancang oleh Alloh SWT) lapak penjual buah langganan saya bersebelahan dengan lapak penjual VCD yang tiada henti memutar sampel VCDnya untuk menarik perhatian pembeli. Keras-keras pula. Karena urusan pilih memilih buah sering agak lama,jadilah saya “penikmat” dadakan musik beginian. Biasanya lagu yang diputar adalah lagu yang sedang digandrungi masyarakat. Kebanyakan berbahasa jawa.Setelah dulu ada lagu “cucak rowo” yang.. u know.. menggambarkan sesuatu yang sangat aurat, kini ada lagu sejenis yang lebih vulgar. Belakangan baru tau judulnya “ngidam penthol”.. hiks! Temanya tentang seorang istri yang lagi horny.. (wah, jadi ikutan vulgar juga dong.. tapi barangkali ada teman yang dari luar jawa dan gak ngerti lagu itu). Walaupun disampaikan dengan perumpamaan, siapapun yang bisa berbahasa jawa pasti tau maksud sebenarnya.Termasuk anak-anak. Apalagi di akhir lagu diselipi dialog istri yang kebelet masuk kamar. Pantas didengar anak-anak? Jangan ditanya!

Belum sembuh rasa ilfil dengan lagu itu, ketika kegiatan study tour saya dikagetkan bahwa ternyata, lagu semacam itu sangat disukai anak-anak didik saya.
Sebut saja NA, anak didik saya ini sehari-hari pakai kerudung saat berseragam sekolah. Waktu study tour, hlaaah.. kok kerudungnya dilepas?! Di tangannya sebuah hape made in china tergenggam sepenuh cinta. Bukan hapenya yang menarik perhatian saya, tapi musik yang disetel NAkeras-keras itu. Lagu ngidam penthol! Dan NA, beserta teman-temannya, terlihat sangat menikmati lagu itu. Buktinya waktu lagu itu selesai, seorang temannya meminta diulang.. seorang lagi meminta dikirimi lewat blutut..

Tak hanya lagu ngidam penthol, lagu yang dipopulerkan lewat goyang cesar juga sangat digandrungi. Bisa dibayangkan lagu yang judulnya saja “bukak sithik joss..” kira-kira isinya apa? Masih banyaklagu lain yang menurut saya uncategorized dan muatannya nggak mendidik. Sayasebut uncategorized, karena mau dibilang dangdut.. kayaknya bukan.., itu kalau dangdut adalah sebutan untuk musiknya Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Iis Dahlia,dkk. Disebut campur sari… bukan kali ya..? Kalau pakai kriteria lagu Sunyahni, Didi Kempot, dkk. Disebut pop, bukan juga. Rock apalagi. Belakangan (lagi) barutau namanya musik “dangdut koplo”

Daaann.. musik dangdut koplo sukses menjadi soundtrack study tour kami waktu itu. Anak-anak yang bawa hape, memutar lagu-lagu beginian semua. Mending kalau gantian, mereka nyetelnya bareng-bareng.. lagunya beda-beda pula, dan nggak pakai headset. Saya hanya geleng-geleng takjub. Mau melarang, lagi menghindari sikap otoriter. Mau menyampaikan bahaya mendengar lagu-lagu nggak mendidik, bagi mereka bisa ditafsirkan = melarang. Akhirnya, saya hanya mengingatkan “mbak, mas.. hapenya dihemat dong batrenya. Nanti ga ada tempat buat ngecas lhoo.. sekarang kita tidur dulu, biar besok fresh..!” Hmm.., tak lama musik-musik itupun mereda.Beberapa anak mengeluh lowbat, membuat yang lain menyadari batre memang harus dihemat. Syukurlah.. Saya pun mencatat di logbook ( jiaaah.. logbook cyn..kaya’ koas ajah..!), next time hal ini harus dibahas. Menurut saya, memilih musik itu termasuk content pendidikan bermedia yang walaupun belum ada di kurikulum sekolah ndeso tempat saya mengajar, tetap harus disisipkan.

Back to topic.. lagu ngidam penthol yang saya ceritakan tadi, sebenarnya bukan lagu pertama yang bikin ilfil. Dulu pernah adalagu “hamil duluan” yang sukses menyatroni kuping saya. Ceritanya seorang yang pacaran kebablasan trus hamil tiga bulan. Yang menarik, reffnya diulang-ulangsecara tidak wajar (menurut saya.., belum sempat ngitung sih, diulang berapakali). “ku hamil duluan sudah tiga bulan, gara gara pacarannya kebablasan..ooh, aku hamil duluan, sudah tiga bulan” dalam satu lagu diulang-ulaaang terus.Pada beberapa lagu yang saya bilang uncategorized tadi, reffnya juga diulangsecara tidak wajar. Ini yang bikin saya curiga, bahwaa…: walaupun sepintas lagu beginian terdengar kurang intelek, tapi ini sebenarnya merupakan bagian dari pengrusakan terprogram oleh pihak yang sangat intelek, pintar dan punya modal.Tentunya lebih pintar dari guru BK sekolah ndeso macam saya. Sasarannya.. tentu generasi muda, kalau bisa yang usianya masih sangat belia, termasuk anak-anak didik saya. As we know, pengulangan merupakan salah satu metode hypnosis paling sederhana tapi ampuh. Pengulangan lirik bermuatan tidak mendidik pada lagu yang notabene dikonsumsi sebagai hiburan, bisa sangat mengena karena biasanya gelombang otak pada saat menikmati hiburan adalah gelombang alpha.. which is..sangat sesuai untuk menanamkan content tertentu ke otak. Eh.. cemiiiw lhoo..saya hanya guru BK sekolah ndeso yang butuh banyak masukan…, ngga sempat googling pula.

Sedikit kebayang bagaimana anak-anak bisa sangat terpengaruh. Saya saja sebagai orang dewasa sering terngiang-ngiang kalau habisdengar lagu-lagu itu. Hati saya ilfil, tapi di otak saya nancep juga. Berarti penerimaan di hati dan otak bisa juga nggak sinkron ya? Makanya “sang aktor intelektual” giat banget memperdengarkan lagu-lagu ini. Walaupun sebel, kalau diulang-ulang nancep juga di otak. Miris deh kalau mengamati pesan moral yangterbalut di lagu beginian. Misalnya, tengoklah lagu-lagu ini..

“hey.. kenapa kamu kalo lihat aku sukanya bilang..bukak sithik joss.. apa karena pake rok mini jadi alasan.. sukanya abang ini lihat-lihat bodiku yang seksi..”
pesan moralnya: it’s okay to wear rok mini and baju seksi, kalo si abang lihat.. salah si abang dong..!

“penginku smsan.. wedi karo bojomu.. pengin kuketemuan.. wedi karo bojomu..”
pesan moralnya: it’s okay to be a selingkuhan (penyanyi = orang pertama, ceritanya selingkuh dengan suami orang. Masih mending yang nyanyi istri yang ditinggal selingkuh, at least selingkuh masih dianggap hal yang tidak disetujui bersama)

“cinta satu malam oh indahnya.. cinta satu malam membuat ku melayang.. walau satu malam akan slalu kukenang selama-lamanya..”
pesan moralnya: it’s okay to have one night love.Cinta apa coba malam-malam? Cinta di tempat dugem? Cintanya sebangsa kelelawar‘kali..?

Udah ah.. entar malah dikira kolektor lagu-lagu beginian. Repot kalau pada ngantri mau pinjem. Lho..?!

Menengok pesan moral yang terbalut dalam lagu-lagu itu, saya merasa pantas resah. Karena, mana mungkin mengontrol musik yang diperdengarkan secara massif, agar tidak terdengar oleh anak-anak? Biasanya malah anak-anak yang paling duluan hafal liriknya dengan sempurna. Jika Anda orang dewasa, bisa mengontrol pesan moral yang masuk ke telinga Anda, the choice is yours. Tapi bagi anak-anak..? Oh my..

Sekali lagi, saya melihat dari sudut pandang pendidikan. Masygul nian rasanya, susah payah mendidik di sekolah, tapi.. diluar sekolah berkeliaran pesan moral macam ini, yang pasti lebih dahsyat efeknya daripada hasil pendidikan di sekolah. Mau mengandalkan orang tua dirumah? Malangnya, di tempat saya mengajar, para orang tua masih beranggapan bahwa anak-anak akan tumbuh secara alamiah, tanpa butuh dukungan stimulus yang memadai dan kontrol terhadap variabel pengacau. Yah.. maklum di desa,kebanyakan bahkan tidak lulus SD.., mana paham parenting.. Mereka bahkan turut berperan memperdengarkan lagu beginian.

Hiks..!
Read more

Senin, 26 Januari 2015

OUT OF CONNECTION

Untuk soal facebook dan internetan (termasuk blogging), seperti banyak hal lainnya, saya termasuk yang angin-anginan. Moody tapi keterlaluan. Timelime Facebook saya sepiii... Hanya mengandalkan teman-teman yang berbaik hati mengetag saya di postingan mereka. Terima kasih Mbak-mbak Raidah Athirah, Fathimatuz Zahra, Rif'ati Djunet sudah berpartisipasi mengisi timeline saya :)

Saya sendiri jarang update status. Bikin status pendek nggak tau mesti ngomong apa. Garing. Bikin status panjang lebih nyaman, tapi waktunya nggak mesti ada, mood juga datang dan pergi sesukanya.
Tapi yang lebih memilukan, seperti halnya mood, ada sesuatu yang datang dan pergi dengan semena-mena. Yaitu koneksi internet, teman-teman..

Saya tinggal di pegunungan. Kira-kira 10 menit perjalanan pakai motor dari lokasi longsor Jemblung kemarin. To be honest, desa saya lebih pelosok dari Jemblung, karena tidak mendapat akses jalan antar kecamatan, apalagi antar kabupaten seperti Jemblung. Bisa dibayangkan? Koneksi internet masih barang mewah bagi saya. Juga perangkatnya.

Dulu, ..... Pakai modem GSM dan kartu paket internet. Hanya ada 1 operator yang sinyalnya memadai untuk akses data. Serasa mimpi bisa internetan pake kompie di rumah, biasanya pake hp doang, itupun disetting untuk loading data minimalis, biar irit. Hiks.. Internetan pake modem 50 rebu dapat 2 GB. Anti download pokoknya. Cuma browsing ringan dan fesbukan, itupun mesti unfollow orang-orang yang sering upload foto narsis ngga penting (kebanyakan murid, abegeh gitu, fotonya ngga penting banget, eman-eman paket data buat loadingnya). Kalau mau download agak gede mesti mengaktifkan paket midnight. Internetan sambil menggigil. Suhu tengah malam hingga dini hari, sekitar 16 derajat dengan dinding rumah bolong-bolong kebayang kah? Kalau nggak penting banget ogah lah.

Masa bulan madu dengan internet tidak berlangsung lama. Karena terus menerus merogoh kocek untuk beli paket data setheplik, sementara harus berdamai dengan rasa jengkel karena sering dirugikan oleh sistem tarif, itu rasanya memilukan banget (halah). Ditambah, modem yang terpaksa ditaruh di luar rumah biar sinyalnya cukup (kayak antena TV gitu) sukses raib diambil orang. Huuhuuhuu... Waktu itu situasinya dramatis banget. Hujan gede, petir menggelegar, keluar buat ngecek modem, eh si modem udah ngga ada.. Sediiih.. *mellow music please..

Hidup tanpa internet. Tak apa. Aku baik-baik saja.. *sambil madep tembok, diam-diam ngeluarin tissu..
Setelah cukup tabungan buat beli modem, suami mulai bereksperimen bikin antena biar modemnya ngga usah ditaruh di luar. Ada yang namanya antena yagi, trus antena omni, trus apa lagi, nggak hafal saya. Bikin sendiri pake pipa pralon dan elemen bekas. Sukses. Sinyal penuh. Modem sekarang aman di dalam rumah.
Lalu datang masa gonta ganti kartu internet. Capek, sungguh. Kembali ke operator awal yang tarifnya sering menjebak gitu. Mesti berdamai lagi dengan perasaan sering dirugikan. Saya jadi akrab dengan suara mbak customer service karena seringnya komplen.

Berpikir sedikit visioner (preett..) suami mulai coba-coba bikin repeater untuk koneksi speedy. Bagaimanapun, internet dibutuhkan banget di sini. Mbak-mbak sepupu yang guru-guru MI sering butuh untuk keperluan yang berkaitan dengan internet. Kami sering dimintai tolong untuk itu. Dengan slogan BERANTAS BUNET, suami dengan gigihnya bikin koneksi untuk rumah kami dan sekolah sekitar. Medan yang ekstrim bukan halangan (ciee...). Sampai akhirnya, ada wifi di rumah saya. Di pegunungan, rumah boleh reot, atap boleh bocor, tapi free wifi ada lho.. Huahahaa.. Ups.. :p

Lalu, saya dan suami bisa internetan bareng. Suami pake kompie, saya pakai laptop. Sampai di sini, internetan malah jadi wagu. Saya tergumun-gumun, bisa liat youtube tanpa takut paket data habis. Padahal kalau lihat youtube, susah untuk tidak ngeklik video yang ditawarkan di sebelahnya. Efisiensi kerja jadi berkurang drastis. Koneksi berlimpah, manfaat berkurang. Ternyata sesuatu yang terbatas, susah didapat, bisa lebih berharga dan bermanfaat. Noted.

Episodenya ganti lagi. Si kompie yang sudah mbah-mbah itu ngadat. Sering mati sendiri. Kinerjanya lambaaat banget. Buka tab baru, nunggunya sampai ngantuk, apalagi untuk kerja yang lain. Maklum, itu memang rongsokan yang dirakit sama suami. Untuk ganti CPU, kami belum mampu. Jadi, buat apa koneksi internet kalau komputernya nggak ada. Si wifi pun akhirnya dijual ke orang.. *mellow music again please..
Lalu, saya beli hape android. Itupun gara-gara urusan dinas yang seringnya koordinasi lewat grup watsap & BBM. Saya berubah pakem, dari hape jadul ke gadget android nan populer itu. Koneksi membaik. Banyak ketemu teman-teman lama di watsap. Bisa menemukan grup-grup yang bermanfaat juga. Seneng. Tapi musti akrab lagi dengan tarif data semena-mena para operator seluler. Dan jangan harap bisa akses data di rumah, karena nggak ada sinyal bo’.. Ada cuma kadang-kadang. Menyebalkan banget kadang, mau balas pesan sampai kelamaan. Dikira abai dan kurang responsif, padahal asli nggak ada sinyal. Ditag teman di postingan, mau komen atau setidaknya like, sinyal malah kabur. Tak apa. I moved on. Haha..


Desember 2014, datanglah episode sendu. Hujan terus-menerus selama 3 hari. Banjarnegara dilanda musibah. Longsor Jemblung jadi berita nasional. Malam itu saya upload foto dapet dari teman. Nggak taunya beritanya hoax. Langsung saya hapus statusnya. Hiks, malu banget.. Berniat meralat dan memberi info yang lebih valid, nggak ada koneksi. Sinyal data hape mendlap mendlep. Kompie masih rusak. Aaaarghh...
Saya juga belum sempat membalas beberapa pesan di inbox. Messenger di hape ikut-ikutan eror. Minta diupdate atau apa gitu. Maafkan saya Mbak Savitry 'Icha' Khairunnisa, Desiyana Susanti, Ibu Munjayanah Trihadi. Alhamdulillah saya baik-baik saja, tak kurang suatu apa..

Pada masa tanggap darurat, suasana benar-benar sendu. Melihat lalu lalang mobil luar kota, berlomba-lomba mengantar bantuan, posko-posko bertebaran, rasanya nyess... Begitu banyak orang peduli. Kebawa suasana sendu. Nggak mood internetan.
Hingga suatu sore ada sms dari kepala sekolah. Ada permintaan data dari dinas. Harus dikirim via email hari itu juga, atau ditunggu sampai besok pagi jam 6, karena untuk bahan rapat di Setda. Katanya.
Padahal waktu itu hari Minggu.

Saya jelaskan, saya sedang tidak punya koneksi internet. Kabel telkom kabarnya putus kena longsor Jemblung. Antena modem sudah dipensiunkan. Then, how can? Jawab kepala sekolah, “saya paham, tapi mungkin sudah waktunya dikirimkan ya?” Oh, baiklah.. No compromise..
Kompie yang mbah-mbah itu dibangunkan. Berusaha konek. Bisa. Alhamdulillah.. Satu email terkirim. Habis itu, pet.. Mati lagi. Hiks.. Belum sempat balas pesan. Tapi tak apa. Terima kasih kompie.. Kau benar-benar mengabdi sampai titik darah penghabisan (haiisy..).

Sebulan berlalu, sekarang sudah lebih baik. Kompie udah diganti apa dan apanya gitu. Kalau nggak salah motherboard, dan beberapa komponen lain. Lebih hemat daripada total ganti CPU. Kabel telkom sudah diperbaiki. Untuk koneksi internet, suami pasang router bekas. Udah kluwuk dan jadul. But, it works well. Saya bisa internetan lagi, teman-teman. Horeee... *heboh sendiri.

Haha.. Segitunya ya untuk bisa internetan. Alhamdulillah, tanpa internet pun hidup saya nyaman-nyaman saja. Bagi teman-teman yang kemarin sempat jadi relawan pasti jadi tau bagaimana ekstrimnya topografi daerah pegunungan utara Banjarnegara. Banyak yang terheran-heran, kok bisa ya ada orang bikin pemukiman disini? Indah tapi menyimpan bahaya. Infrastruktur juga masih jauh dari memadai. But life must go on..
Baiklah, untuk comeback edition 2015 cukup sekian dulu. Miss you all, friends..

Read more